Pra Kemerdekaan Revublik Indonesia
Ongko sebuah nama kampung yang sudah terkenal sejak zaman Pra Kemerdekaan. Pada awalnya nama ini muncul sekitar tahun 1930-an pada masa penjajahan Belanda. Nama Ongko ini berasal dari kata “Ongkona Arungnge”. Artinya daerah kekuasaan Arung. Dikatakan Ongkona Arungnge karena tempat peristirahatan Arung/tempat perburuan Rusa para Arung-Arung pada saat itu. Arung disini adalah keturunan raja Maiwa.
Menurut salah satu ahli sejarah bahwa daerah Ongko tidak sembarang orang yang bisa masuk di wilayah itu. Kalau ada orang pendatang yang mau masuk di daerah ini harus mendapatkan izin oleh si Arung tadi. Karena jika tidak maka orang tersebut akan mendapat celaka. Apalagi ketika orang itu mau mengambil hasil bumi seperti rotan dan sebagainya juga harus minta izin, kalau tidak maka dia di usir keluar dari Ongko. Ini merupakan salah satu budaya yang terkuat dan disegani oleh orang-orang di sekitar daerah Ongko.
Penduduk Ongko pada saat itu merasakan kekejaman penjajahan Belanda ini ditandai dengan adanya tanam kerja paksa. Penjajahan Belanda pada saat itu dikenal oleh penduduk Ongko dengan nama NIKA, dan sampai saat ini masih ada salah satu saksi sejarah yang masih hidup.
Sampai pada masa penjajahan Jepang yang di istilakan oleh penduduk Ongko saat itu adalah penjajahan NIPPONG nama Ongko masih populer. Penjajahan NIPPONG di tandai dengan adanya Kerja Paksa. Hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia Ongko masih tetap dikenal oleh segenap pejuru.
Pasca Kemerdekaan Revublik Indonesia
Pada pasca kemerdekaan RI Ongko pada saat itu di duduki oleh pasukan DI yang di pimpin oleh Kahar Muzakkar pada sekitar tahun 1963. Di sinilah para pasukan DI menyusun kekuatan-kekuatan dan mejalankan misinya.
Sekitar tahun 1967 nama Ongko makin dikenal. Sampai pada saat masuknya pasukan dari Jawa yang dikenal dengan nama tentara Siliwangi, yang datang untuk memberantas pasukan DI.
Ketika itu para penduduk Ongko tidak lagi disuruh untuk tinggal di kampung Ongko. Semua penduduk diperintahkan untuk tinggal di daerah kota yaitu kota Maroangin. Maka tinggallah mereka di maroangin sebelah timur, kemudian mereka menamakan daerah tempat tinggal mereka tetap Ongko. Itulah sebabnya wilayah belakang Pasar Maroangin sekarang dinamakan Ongko karena Penduduknya berasal dari daerah Ongko.
Sekitar tahun 1969 para penduduk Ongko kebali ke mata pencaharian mereka yang tidak jauh daerah asal mereka. Kemudian mereka menetap di sana satu-persatu penduduk Ongko kembali ketempat yang tidak jauh Kampung Ongko tersebut. Kemudian, mereka membentuk perkampungan lagi yang dikenal dengan nama Kajubulo.
Sekitar tahun 1970 Kajubulo resmi menjadi sebuah dusun yang dinaungi oleh Desa Marongin. Kepala desa yang pertama pada saat itu adalah Pn. Kabatia. Kemudian Dusun Kajubulo diambil alih oleh Desa Pattondong Salu, kemudian diambil alih lagi oleh Desa Salo dua.
Sampai pada tahun 2008, pemerintah daerah Kabupaten Enrekang memekarkan Dusun Kajubulo menjadi sebuah desa yang tersendiri. Suatu kesyukuran yang dirasakan oleh penduduk desa setempat karena sudah menjadi desa tersendiri maka para tokoh masyarakat mengadakan suatu musyawarah besar mengenai nama desa nantinya. Akhirnya pada tahun itu juga mereka menamakan Dusun Kajubulo sebagai desa Ongko kembali.
Tabel 1. Alur Sejarah Pemerintahan Desa Ongko
NO. TAHUN KEJADIAN / PERUBAHAN
1 1967 – 1972 Kampong kajubulo di bawah naungan Desa Pattondong Salu yang Kepala Desa adalah Pak Kulle’.
2 1972 – 1977 Pertama kalinya Kampung Kajubulo di bentuk menjadi dusun yang dikepalai oleh Pallao dibawah naungan Desa Pattondong Salu. Dan Kepala Desa pada saat itu adalah Pak Baddu.
3 1977 – 1982 Dusun Kajubulo yang dikepalai oleh Pallao masih di bawah naungan Desa Pattondong Salu yang kepala desanya adalah Pak Kraha.
4 1982 – 1987 Dusun Kajubulo yang dikepalai oleh Pallao masih di bawah naungan Desa Pattondong Salu yang kepala desanya adalah Pak Habu.
5 1987 – 1992 Dusun Kajubulo yang dikepalai oleh H. Ambo Tuo dan diwakili oleh Hode memisahkan diri dari Desa Pattondong Salu dan diambil alih oleh Desa Salo Dua yang menjadi kepala Desa pada saat itu adalah Pak Zainuddin Musa.
6 1992 – 1997 Dusun Kajubulo yang dikepalai oleh H. Ambo Tuo dan diwakili oleh Hode memisahkan diri dari Desa Pattondong Salu dan diambil alih oleh Desa Salo Dua yang menjadi kepala Desa pada saat itu adalah Pak Rivai.
7 1997 – 1999 Dusun Kajubulo yang dikepalai oleh H. Ambo Tuo dan diwakili oleh Hode yang masih dibawah naungan Desa Salo. kepala Desa pada saat itu adalah Pak Zainuddin Musa. Dan pada tahun 1999-2002 jabatan Kepala Desa dipimpin oleh Drs. Yamin.
8 2002 – 2007
Dusun Kajubulo yang dikepalai oleh Pawennari dan diwakili oleh M. Jafar masih dibawah naungan Desa Salo Dua. Kepala Desa pada saat itu adalah Pak Rivai.
Masyarakat Kajubulo ingin memisahkan diri dari Desa Salo dua menjadi desa tersendiri. Karena dari sejarah yang kita kenang, maka nama desa pada saat itu adalah Desa Ongko yang disepakati bersama oleh masyarakat Kajubulo.
9 2008-sekarang Pada awal tahun 2008 desa Ongko di jabat sementara Oleh Camat Maiwa Drs. Sangkala, M.Si sampai bulan April. Akhirnya, pada tanggal 21 April 2008 pelanntikan Kepala Desa pertama oleh Bupati Kabupaten Enrekang H. Latinro La Tunrung dan yang menjadi Kepala Desa Pertama Desa Ongko adalah Mustakim M.
Selama memisahkan diri menjadi desa tersendiri, bantuan dan anggaran yang masuk di Desa Ongko sudah dinikmati oleh masyarakat Desa.
Salah satu bantuan dari PNPM Mandiri Pedesaan, yang dinikmati oleh masyarakat Desa Ongko adalah 5 sumur gali, dan 1 unit TK. Ini adalah bukti perkembangan suatu desa yang sudah menjadi diri sendiri yang dikepalai oleh Mustakim M.

